Budaya dan perilaku organisasi
Makalah ilmu
budaya dasar
Budaya dan perilaku organisasi

Nama:farras avila
wicaksono
Npm:14214008
Kelas:1EA09
Kata
pengantar
Puji syukur saya panjatkan
kepada allah swt atas segala rahmat hidayah dan karuniannya akhirnnya dapat
menyelesaikan penulisan dan penyusunan makalah yang berjudul budaya dan
perilaku organisasi ini dapat selesai sesuai rencana makalah ini membahas dan
mengarahkan perilaku tertentu yang dikehendaki oleh proses pencapaian tujuan
organisasi makalah ini ditulis dalam rangka tugas memperoleh cakrawala dalam
budaya organisasi pada umumnya
pendahuluan
latar belakang pada dasarnya dalam kehidupan merupakan
bagian yang terpisahkan dengan
lingkungan internal organisasi karena keragaman budaya yang ada dalam organisasi
sama banyaknya dengan jumlah individu yang ada pada organisasi tersebut karena
budaya adalah berkaitan erat dengan persepsi terhadap nilai dan lingkungannya
yang melahirkan makna dan pandangan hidup yang akan mempengaruhi sikap dan
tingkah laku sedangkan organisasi merupakan dikatakan berhubungan dengan aspek
sosial karena memang subjek dan objeknya adalah manusia yang diikat oleh
nilai-nilai tertentu
pembahasan
Berdasarkan
sal usul katanya (etimologis) bentuk jamak dari budaya adalah kebudayaan
berasal dari sansekerta budhayah yang merupakan bentuk jamak dari budi, yang
artinya akal atau segala atau suatu yang berhubungan dengan akal pikiran
manusia demikian juga dengan istilah yang artinya sama yaitu kultur berasal
dari bahasa latin colere yang berarti mengerjakan attau mengolah jadi budaya
atau kultur disini dapat diartikan sebagai segala tindakan manusia untuk
mengolah atau mengolah sesuatu kultur mengandung pola eksplisit maupun implisit
dari dan untuk perilaku yang dibutuhkan dan diwujudkan dalam simbol inti utama
dari kultur terdiri dari ide tradisional (turun-temurun dan terseleksi) dan
terutama pada nilai yang mejarah (historitas) kamus besar bahasa indonesia
mendifisikan budaya dalam dua pandangan yaitu:pertama hasil kegiatan dan
penciptaan batin atau akal budi manusia seperti kepercayaan kesenian dan adat
istiadat kedua menggunakan pendekatan antropologi yaitu keseluruhan pengetahuan
manusia sebagai mahluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta
pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya
Secara lebih formal kotler dan
hessket benyamin mendefinisikan budaya sebagai totalitas perilaku kesenian
kepercayaan kelembagaan dan semua produk lain dari karya serta pemikiran
manusia yang mendirikan suatu masyarakat atau produk yang ditransmisikan
bersama Owen mengatakan bahwa budaya merupkan merupakan filsafat-filsafat,
ideologi-ideologi,nilai-nilai asumsi-asumsi keyakinan-keyakinan harapan-harapan
sikap-sikap dan norma-norma bersama yang mengikat atau mempersatukan komunitas
budaya merupakan konsep yang penting dalam memahami masyarakat dan kelompok
manusia untuk waktu yang lama stoner et al memberikan pengertian budaya sebagai
kompleks atas asumsi tingkah laku cerita,mitos metafora dan berbagai ide lain
yang menjadi satu untuk menentukan apa arti menjadi anggota masyarakat tertentu
kebudayaan dapat tampak dalam bentuk
perilaku masyarakat hasil dari pemikiran yang direflesikan dalam sikap dan
tindakan ciri yang menonjolnya antara lain adalah nilai-nilai yang dipresepsi
dirasakan dan dilakukan hal tersebut dikukuhkan oleh pendapat tasmara yang
menyatakan tentang kandungan utama yang menjadi esensi budaya yaitu budaya
berkaitan erat dengan persepsi terhadap nilai dan lingkungannya yang melahirkan
makna dan pandangan hidup yang akan memengaruhi sikap dan tingkah laku (the
total way of life a people) dalam proses budaya terdapat saling mempengaruhi
dan saling ketergantungan baik sosial maupun lingkungan nonsial Kesimpulannya
adalah bahwa budaya merupakan pandangan hidup(way of life) yang dapat berupa
nilai nilai-nilai norma kebiasaan hasil karya pengalaman dan tradisi yang
mengakar disuatu masyarakat dan mempengaruhi sikap dan perilakuan setiap orang
atau masyarakat tersebut konsep
organisasi organisasi menurut kast dan jamese rosenzweig bahwa kita membutuhkan
sustu definisi umum dan sebuah model konseptual mengenai organisasi yang cocok
untuk semua jenis kecil dan besar informal dan formal sederhana dan
Kompleks dan organisasi
yang melaksanakan, berbagai aktivitas dan fungsi dalam hubungan ini didefinisikan sebagai berikut suatu, subsistem
dari lingkungannya yang lebih luas suatu subsistem struktur orang yang, kerja
sama dalam aktivitas terpadu suatu subsistem psikososial orang dalam hubungan
sosial ,subsistem manajerial perencanaan pelaksanaan dan pengawasan semua
uasaha, berdasarkan definisi organisasi yang dikemukakan di atas memberikan
informasi bahwa organisasi, itu terdiri atas dua bagian besar yaitu organisasi
sebagai wadah atau tempat subsistem, pemahaman ini bukan seperti rumah, kamar,
kebun kantor, dan lain sebagainya hanya ada dalam alam pikiran manusia
organisasi sebagai proses yang menggambarkan ,aktivitas yang
sedang atau telah dilaksanakan, oleh manusia yang bergabung dalam sebuah
organisasi sosial ,organisasi dikatakan
berhubungan dengan aspek sosial,karena menag subjek dan objeknya adalah
manuiayang diikat oleh nilai-nilai tertentu. Nilai adalah hakekat moralitas
kehendak untuk memenuhi kewajiban manusia baik dalm organisasi formal maupun
organisasi informal. Selanjutnya dikemukakan oleh kast dan james E. rosenzweig
(2002) Organisasi didefinisikan sebagai kelompok orang yang terikat secara formal
dalam hubungan atasan dan bawahan yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama pula. Definisi
sederhana diatas memberi petunjuk bahwa organisasi dapat disoroti dari dua
sudut pandang yaitu sebagai wadah berbagai kegiatan dan sebagai proses interaksi antara
ornang-orang yang berada didalamnya manusia diciptakan tuhan dengan sempurna
dan tidak ada manusia yang memiliki kesamaan secarasignifikan dan persis dalam
segala hal sekalipun kembar siam begitupun dua organisasi yang sejenis seperti
sekolah atau perusahaan maupun perguruan tingggi tidak dapat menampilkan budaya
yang persis sama namun demikian budaya organisasi merupakan suatu kekuatan yang
tidak terlihat tetapi dapat mempengaruhi pikiran, perasaan dan tidakan
orang-orang yang bekerja dalam suatu organisasi. seperti halnya pribadi
seseorang, organisasi selau unik dan ingin tampil khas, masing-masing
organisasi memiliki budayanya sendiri-sendiri , hal ini karena dipengaruhi oleh
visi misi serta tujuan walaupun organisasi itu sejenis, namun budayanya akan
berbeda
Konsep budaya organisasi sehubungan
dengan uraian tersebut, dalam suatu organisasi (organization culture) merupakan
bagian yang terpisahkan dengan lingkungan internal organisasi, karena
keragamaan budaya budaya yang ada dalam organisasi sama banyaknya dengan jumlah
individu yang ada pada organisasi tersebut. Berdasarkan perkembangan istilah,
ada empat istlah yang memiliki makna yang sama, yaitu:budaya
pabrik,perusahaan,dan budaya bisnis digunakan sesuai dengan kutipan aslinya
untuk memberikan pemahaman bagi kita secara konseptual sesuai dengan konteks
tersebut dikemukakan formulasi definisi dari para ahli dan pakar. Menurut
jagues budaya pabrik adalah cara kerja dan cara berpikir yang dianut oleh
pekerja,menejer, dan semua yang terlibat di pabrik tersebut. Dalam hal ini
budaya pabrik mencakup berbagai tingkat dan aspek dan perilaku yaitu:cara produksi,
cara membayar, nilai yang diletakkan
atas beragai tipe pekrjaan, keyakinan yang dianut, proses pengambilan
keputusan, aturan. Budaya organisasi atau perusahaaaan adalah nilai-nilai
tersebut yang sksn memberi jawaban apakah suatu tindakan benar atau salah dan
apakah suatu perilaku di anjurkan atau tidak sehingga berfungsi sebagai
landasan untuk berperilaku (susanto). dalam suatu organisasi kita mengetahui
adanya dua aspek perangkat yaitu aspek fisikatau aspek hard yang tampak dalam
struktur, kebijakan, peraturan-peraturan, teknologi, dan keuangan yang
pengukurannya mudah dan dapat dikuantifikasikan serta dikontrol secara kasat
mata.perilaku adalah aspek yang yang tidak mudah mengukurnya, tetapi sangat
berperan dalam memacu organisasi menuju arah yang diinginkan aspek manusia
dalam organisasi menuju arah yang diinginkan. Betapa pentingnya keberadaan
budaya dalam konteks organisasi sehingga diperlukan perekayasaan terhadap
unsur-unsur pembentukan budaya. apa sebenarnya budaya organisasi itu dan
bagaiman pola perilakunya, adalah suatu ciri khas perilaku organisasi atau
masyarakat tertentu ysng bersifat statis dan tidak dapat diintervensi oleh kekuatan
manajemen, atau sebaliknya sesuatu yang bersifat dinamis dan progresif yang
dapat dipengaruhi oleh manajemen.
( Buchanan dan hucynzki )
melontarkan tentang adanya dua debat budaya pertama debat tentang pandangan budaya
sebagai suatu variabel terhadap budaya sebagai suatu metafora. pandangan ini
beranggapan bahwa budaya sebagai suatu kenyataan yang akan objektif serta dapat
di ukur dan di ubah oleh manajemen . pandangan yang menentangnya menyatakan
bahwa budaya sesungguhnya merupakan suatu pernyataan mental yang harus diberi
toleransi karena ia tidak mampu diubah oleh manajement. Debat, berkaitan dengan
tiga persepektif dan sekaligus merupakan yang paling tepat untuk dihubungkan dengan
budaya organisasi. Perspektif pertama disebut yang beranggapan bahwa budaya
organisasi terdiri dari orang-orang yang telah memberikan serangkaian
nilai-nilai umum dan asumsi dasar. Persepektif disebut diferensiasi yang
menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada budaya yang tunggal dan umum sifatnya
yang ada ialah sub budaya yang terbentukdidalam organisasi budaya itu sendiri
perspektif ketiga disebut fragmantasi yang menyatakan bahwa adanya kemunduraan
didalam organisasi akan mencegah terjadinya kesepakatan yang tidak teratur (sembarang) yang berlangsung atas dasar
nilai-nilai atau asumsi dasar yang agak meragukan (ismail nawawi) budaya
organisasi memiliki dua atribut yang berbeda, pertama adalah intensitas, yaitu
batas-batas atau tahap-tahap ketika para organisasi atau unit atas norma-norma,
nilai-nilai, atau isi budaya lain yang berhubungan dengan organisasi atau unit
tersebut. Yang kedua adalah integegritas, yaitu batas-batas atau tahap-tahap
ketika unit yang ada dalam suatu organisasi ikut serta memberikan budaya yang
umum (rousseau) dua atribut tersebut cukup menjelaskan adanya budaya yang
diciptakan organisasi yang dipengaruhi oleh budaya yang dibawa pribadi-pribadi
dalam organisasi dikarenakan budaya organisasi berpengaruh kuat terhadap
perilaku seluruh karyawan maka sudah menjadi kewajiban organisasilah membangun
arah dan strategi yang membentuk budaya yang kuat yang dipatuhi semua karyawan.
Namun kadang timbul masalah dalam budaya yang kuat ini, yaitu suatu perubahan
dalam visi atau inovasi sulit berhasil karena budaya baru itu berposisi
terhadap budaya organisasi yang sudah diterima dengan baik.
Dalam
studi budaya organisasiorganisasi atau perusahaan, ada dua hal yang menarik
yaitu kuat atau nyatanya budaya suatu organisasi berkaitan dengan keberhasilan
atau kegagalan perusahaan atau organisasi tersebut, ideologi simbol dan
keyakinan bersama memiliki dampak besar terhadap perusahaan lepas dari
karakteristik objektif dan strukturnya. (daft) menyatakan budaya organisasi
atau perusahaan terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan yang mudah dilihat dan
dipandang mewakili budaya perusahaan secara menyeluruh yang disebut visible
artifact dan lapisan yang tak kasat mata visible artefact terdiri atas cara
orang berperilaku, berbicara, dan berdandan di pihak lain, lapisan kedua yang
merupakan lapisan tak kasatmata terdiri atas nilai-nilai pokok,filosofi,
asumsi, kepercayaan, dan proses berpikir dalam perusahaaan lapisan inilah yang
sesungguhnya disebut perusahaan dari berbagai konsep budaya organisasi
sebagaimana uraian tersebut ditemui sebuah uraian budaya organisasi sebagai
suatu pola dan model yang terdiri atas kepercayaan,dan nilai-nilai yang
memberikan arti bagi anggota suatu organisasi atau aturan bagi anggota untuk
berperilaku diorganisasi menurut (davis dan moelyono) setiap organisasi
memeiliki makna tersendiri terhadap kata budaya yaitu identitas, ideologi,
etos, pola eksistensi, aturan, pusat kepentingan, filosofi tujuan,
spirit,sumber informasi,visi dan cara (robins) mengemukakan tujuh karakteristik
prima budaya organisasi sebagai berikut budaya mengambil risiko (innovation and
risk taking),perhatian terhadap detail (attention to detail), berorientasi
terhadap hasil (outcome orientation), berorientasi kepada manusia (people
orientation), berorientasi tim (team orientation), agresif (agressivenses),
stabil (stability)
sehubungan dengan karakteristik
tersebut, setiap karakteristik itu bergerak pada suatu kontinum dari rendah ke
tinggi dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini akan
diperoleh gambaran majemuk budaya organisasi beberapa manifestasi budaya dapat didentifikasikan sari
cara-cara bersikap kebiasaan anggota
organisasi dalam melakukan keseharian operasionalisasi yang dapat berbentuk
upacara-upacara, ritual-ritual, ataupun seragam yang dikenakan sergiovani
menguntip pendapat (lunberg) menyebutkan bahwa budaya organisasi muncul dalam
empat lingkaran, yaitu artifact, perspective, values, assumption maka untuk
mendiskripsikan budaya suatu organisasi pertama kali yang harus dilakukan
adalah mengamati perwujudan budaya tersebut baru kemudian menangkap maknanya
(kotter dan hessket) mengungkapan bahwa budaya organisasi muncul dalam dua
tingkatan, terlihat yaitu tingkatan yang kurang, berupa nilai-nilai yang dianut
oleh anggota kelompok yang cenderung bertahan meskipun anggotanya sudah diganti
nilai-nilai ini sangat sukar berubah dan anggota organisasi seringkali tidak
menyadari karena banyaknya nilai tingkatan yang seringkali terlihat berupa pola
gaya perilaku organisasi, yakni orang-orang yang baru masuk terdorong untuk
mengikutinya adakalanya kita sangat kesulitan menerapkan inovasi pada
organisasi yang sudah bertahan lama
dengan eksistensinya, walaupun dunia diluar organisasi sudah begitu majunya
para pendiri ataupun anggota organisasinya dapat bertahan dalam kemajuan
tersebut mungkin saja nilai-nilai lama yang selalu segar menurut anggota
organisasi menempatkan diridalam kemajuan , namun ketidakberanian,
memnyesuaikan diri dengan kemajuan yang ada, tertutup, serta bertahan dengan
budaya lama, barangkali bukanlah sikap yang selau menguntungkan. organisasi
perlu menampakkan budaya melalui nilai-nilai yang dianut anggota dan
nilai-nilai yang ditetapkan organisasi .
Disamping melalui manifestasinya,
budaya dapat dipahami melalui pemahaman akan karakteristik budaya itu sendiri
(aan komariah dan cepi triatna) memberikan sembilan karakteristik utama sebagai pembeda budaya
organisasi yaitu sebagai berikut insiatif individu, toeransi terhadap tindakan
beresiko, arah organisasi, integrasi, dukungan dari manajemen, kontrol,
identitas, sistem imbalan, pola-pola komunikasi. Jenis dan tipe budaya
organisasi adapun tipe budaya organisasi, menurut pendapat (handy) berdasarkan
tingkat formalitas dan sentralisasi dengan konfigurasi tersebut budaya
perusahaan atau organisasi dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu
formalisasi tinggi, sentralisasi tinggi, formamalisai rendah, sentralisasi
tinggi, formalisasi tinggi, sentralisasi rendah, dan formalisasi rendah,
sentralisasi rendah keempat jenis budaya perusahaan tersebut memiliki kekuatan
dan kelemahan. Kekuatan budaya apollo atau peran yaitu adanya kerapian dan
keteraturan sehingga kesalahan-kesalahan yang bersifat fatal dapat dihindari
kelemahan budaya apollo atau peran yaitu kurang fleksibel dan cepat untuk
menghadapi tantangan baru sehingga kalah apabila dibandingkan dengan perusahaan
yang menerapkan budaya di pihak lain organisasi yang menerapkan budaya zeus
atau kuasa memiliki birokrasi yang kuat dan kemampuan melindungi perusahaan
dengan kukuh. Kelemahan penerapan budaya ini yaitu tidak adanya kehangatan dan
keakraban antara pimpinan dengan bawahan , sebab semua masalah dapat
diselesaikan dengan pendekatan strkutural
kekuatan penerapan budaya athena
atau tugas yaitu adanya keterbukaan untuk berdialog dan bebreda pandangan apabila perlu kelemahan budaya ini,
yaitu kemungkinan timbul inkonsistensi dengan keputusan yang diambil dan tidak
adanya stabilitas serta ketenangan kerja dalam kehidupan perusahaan tersebut
kekuasaan budaya dapat memelihara kehangatan dan kekeluargaan antara pihak
peimpinan dengan bawahan kelemahan budaya ini apabila diterapkan yaitu adanya
risiko yang besar (jeffrey sonmenfeld) secara tipologis membedakan empat macam
budaya organisasi yaitu academy, budaya organisasi yang menekan pada jabatan,
club tipe ini menjadikan senioritas, loyalitas, komitmen, dan pengalaman
sebagai ciri khas budaya organisasi basebal-team, mencari bakat-bakat muda yang
dapat memberikan sumbangan yang cemerlang bagi kemajuan organisasi fortress,
menekankan pada kelangsungan hidup organisasi survival melalui kepekaan
terhadap tantangan-tantangan baru pengaruh budaya masyarakat terhadap budaya
organisasi budaya masyarakat mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap budaya organisasi di
indonesia (kayam) mendeskripsikan ada dua
sosok budaya yang dapat dijadikan model budaya indonesia sosok budaya pertama
sosok budaya masyarakat kerajaan di nusantara yang disebut sosok budaya aristokratis,
dan yang kedua adalah sosok budaya paternalistis yang berkembang di masyarakat
pertanian tradisional yang tidak sempat atau tida memerlukan sistem keuasaan
kerajaan budaya feodal arisokratis maupun budaya paternalistis yang ikut
mempengaruhi budaya perusahaan yang ada di indonesia tata krama perusahaan yang
ada di indonesia memiliki study yang cermat. Dengan demikian porsi pekerjaaan seseorang
sudah diterapkan dan bersifat rutin jenis budaya formalisasi rendah,
sentralisasi tinggi, bercirikan hubungan lisan yang kuat dan intutif .
kekuasaan tertinggi ada di tangan satu orang atau sebuah kelompok dari pusat ,
seperti seekor laba –laba yang berada ditengah jaringanya jenis budaya ini
dikenal dengan istilah budaya zeus atau budaya kuasa. Jenis budaya ini dikenal
dengan budaya zeus budaya kuasa jenis budaya formalisasi tinggi, sentralisasi
rendah adalah jenis budaya tugas dan matriks dalam budaya ini orang-orang
terkumpul dari berbagai latar belakang ilmu dan keterampilan yang berbeda
(interdisipliner) namun mereka terfokus pada tugas yang sama cara kerja
masing-masing elemen ini sangat independen namun terikat oleh berbagai prosedur
yang ketat. Handy menambahkan budaya ini sebagai budaya athena kekuatan
penerapan budaya athena atau tugas yaitu adanya keterbukaan untuk berdialog dan
berbeda pandangan apabila perlu . kelemahan penerapan budaya ini, yaitu kemungkinan
timbul inkonsistensi dengan keputusan yang diambil dan tidak adanya stabilisasi
serta ketenangan kerja dzalam kehidupan perusahaan tersebut. Kekuasaan budaya
dinosius dapat memelihara kehangatan dan kekeluargaan antara pihak pimpinan
denganbawahaan. Kelemahan budaya ini apabila diterapkan yaitu adanya risiko
yang besar manfaat dan fungsi budaya organisasi budaya organisasi membantu
mengarahkan sumber daya manusia pada
pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi di samping itu akan meningkatkan
kekompakan timantar begbagai departemen , divisi atau unit dalam organisasi
sehingga mampu menjadi perakat yang mengikat orang dalam organisasi
bersama-sama budaya organisasi membentuk perilaku staf dengan memberi mereka
perasaan memiliki, loyalitas, kepercayaan, dan nilai-nilai, dan mendorong
mereka berpikir positif tentang mereka dan organisasi. Dengan demikian,
organisasi dapat memaksimalkan potensi stafnya dan memenangkan kompetisi Dengan
budaya organisasi kita dapat memperbaiki perilaku dan motivasi sumber daya
mausia sehingga meningkatkan kinerja organisasi untuk mencapai tujuan
organisasi namun budaya organisasi harus selalu dikembangkan sesuai dengan
perkembangan lingkungan. budaya
organisasi yang statis suatu
saat akan menjadi tidak sesuai denagan kebutuhan organisasi yang bersifat
dinamis sebagai respons terhadap perubahaan lingkungan budaya organisasi
seperti sebuah lingkaran ,setengah di bawah adalah operasional yaitu tentang
apa yang di kerjakan ,piranti keras,sistem,kontrol,produksi,dan keuntungan
adapun faktor setengah di atas adalah faktor human atau manusia mengenai
bagaimana kita melakukan operasi dengan pengertian, komunikasi, kepercayaan,
hubungan dan keikutsertaan budaya organisasi yang terpelihara dengan baik,
mampu menampilkan perilaku iman, taqwa, kreatif, inovaftif, dan dapat brgaul
haus dapat dikembangkan . manfaat yang dapat diambil dari budaya demikian
adalah dapat menjamin hasil kerja dengan kualaitas yang lebih baik, membuka
seluruh jaringan komunikasi, keterbukaan, kebersamaan, kegotongroyongan ,
kekeluargaan, menemukan kesalahan dan cepat memeperbaiki, cepat beradaptasi
dengan perkembangan yang terjadi di luar (faktor eksternal seperti pelanggan,
teknologi, sosial, ekonomi dan lain-lain, mengurangi laporan-laporan berupa data
informasi yang salah dan palsu (triguno) budaya organisasi memiliki
fungsi-fungsi sebagai berikut menentukan hal pentingyang mendasari organisasi ,
standar dan keberhasilan dan kegagalan harus bisa diukur menjelaskan bagaimana sumber-sumber organisasi
digunakan dan untuk kepentingan apa menciptakan apa yang dapat organisasi dan para anggotanya harapkan satu sama lain membuat beberapa
metode pengontrolan perilaku dalam
keabsahan organisasi dan membuat yang lain tidak absah, yang menentukan letak
kekuasaan di dalam organisasi dan bagaimana menggunakannya menyeleksi perilaku
yang memungkinkan anggota terlibat atau tidak, menentukan ganjaran dan hukuman
budaya organisasi dalam perannya sebagai pembatas yang membedakan satu
organisasi dengan organisasi lain memberikan identitas (sense of identity )
pada anggota organisasi budaya organisasi yang meresap pada anggota akan
menumbuhkan komitmen komitmen diartikan sebagai suatu kondisi ketika anggota
organisasi memberikan segenap kemampuannya dan loyalitas tertinggi kepada
organisi,diman dengan cara seperti itu mereka mendapatkan kepuasan . budaya
organisasi dimana dengan cara seperti itu mereka mendapatkan kepuasan budaya
organisasi sangat bermanfaat bagi organisasi karena produk dari budaya tersebut
memberikan arah atau pedoman bagi organisasi karena produk dari budaya tersebut
memberikan arah atau pedoman bagi organisasi karena produk dari budaya tersebut
memberikan arah atau pedoman bagi organisasi sehingga anggota organisasi tidak
dapat semena-mena bertindak atau berperilaku sekehendak hati. Dengan adadnya
budaya organisasi dapat membuat program-programpengembangan usaha dan
pengembangan sumber daya manusia yang
didukung penuh dari seluruh jajaran sumber daya manusia yang ada bila suatu
organisasi memahami dan menghargai keberdayaan suatu budaya organisasi serta
memberikan peluang bagi tumbuhdan perkembangannya budaya organisasi maka organisasi tersebut akan menjadi suatu
organisasi yang berhasil
penutup
kesimpulan
jadi pada intinya tidak dapat menampilkan budaya yang sama persis namun
demikian merupakan suatu kekuatan yang tidak terlihat dapat mempengaruhi
pikiran perasaan dan tindakan orang-orang yang bekerja dalam suatu organisasi
seperti halnya kepribadian seseorang organisasi ingin selalu unik dan ingin
tampil khas seperti masing-masing budaya organisasi
sendiri-sendiri hal ini dipengaruhi oleh visi misi
serta tujuan walaupun organisasi itu sejenis namun
budayanya akan berbeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar